Kutipan Tentang Rasa

Akhirnya saya nulis bebas lagi setelah sekian lama hanya berkutat pada nulis laporan, laporan dan laporan. Saya sendiri masih bingung mau nulis apa sekarang. Yang saya tau, saya cuma ingin nulis lagi, ingin merasakan pembebasan pikiran tanpa syarat.

Bicara tentang laporan, saya jadi ingat kalau minggu kemarin adalah minggu ujian bagi prodi saya dan salah satu ujian yang saya lalui adalah ujian praktikum fisika. Singkat kata, ujian berakhir dan saya keluar dengan kepala tegak, bukan karena bisa ngerjain soal, tapi lebih karena benar-benar udah pasrah dengan jawaban saya tadi. Di sudut kampus yang lain *ceilah..* saya melihat seorang teman saya lagi dalam tahapan infeksi kecewa akut gara-gara dia lupa sebaris pernyataan tentang kohesi-adhesi yang tadi keluar di dalam soal.  Dan ternyata kekecewaan temen saya tadi itu lebih parah dari yang saya bayangkan.

Malam harinya temen saya itu mengirim sms ke temannya–yang nggak sengaja terkirim ke nomor saya juga- isinya tentang dia yang kecewa berat dengan ujian fisika tadi. Alasannya karena dia sangat berharap dapat nilai sempurna di ujian itu. Dan disinilah saya mulai berpikir, apakah saya pernah mengalami tingkat kekecewaan terhadap hasil ujian seperti itu?-sepertinya tidak-. Kenapa kadar kecewa saya terhadap hasil ujian itu nggak pernah setinggi itu?-mungkin karena saya nggak pernah berusaha sekeras tingkat usaha temen saya itu-. Kok tiap saya berpikir tentang diri saya keluarnya cuma yang jelek-jelek aja ya? -Nah, sepertinya saya harus mengubah pola pikir dulu nih..-

 

“bahwa usaha yang terlalu keras akan membebani kita dan usaha yang kurang akan membuat kita menjadi malas. Jadi, yakinkan niat bahwa kau akan mengambil jalan tengah, tidak membiarkan dirimu berusaha terlalu keras atau bermalasan, tetapi menyadari bahwa keyakinan, energi, kewaspadaan, konsentrasi dan kebijaksanaan adalah hasil jalan tengah yang tenang dan seimbang”

 

Saya dapat kata-kata itu juga dari seorang teman. Dan setelah saya amati kata-kata tersebut, akhirnya saya bisa menemukan kelebihan diri saya, tanpa bermaksud sombong.

Apa sih yang dimaksud ‘usaha yang terlalu keras’ dan ‘usaha yang kurang’ di kutipan kata-kata diatas?

Menurut saya artinya cukup simpel. Semua itu tentang ‘rasa’. Saat kita merasa bahwa usaha kita adalah bentuk usaha keras, maka alam bawah sadar kita juga menanamkan sebuah ide -atau malah sebuah beban atau tekanan baru- bahwa kita akan berhasil dan kita harus berhasil. Tidak ada yang salah tentang keyakinan untuk berhasil, tapi yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan untuk gagal masih ada walaupun dengan presentase yang sangat kecil.  Implikasi jika kita merasa usaha kita terlalu keras, maka kita tidak akan mempersiapkan diri kita untuk sebuah kegagalan. Dan ketika kita gagal, akhirnya stress itu menjadi shocking therapy tersendiri buat kita.

Apabila usaha yang terlalu keras saja bisa berakibat buruk, apalagi usaha yang kurang. Kalau kita merasa usaha yang kita lakukan belum memenuhi batas untuk berhasil, ya sudah, itulah yang terjadi. You are what do you think. Saya nggak punya penjelasan yang lebih baik dari itu.

“…tetapi menyadari bahwa keyakinan, energi, kewaspadaan, konsentrasi dan kebijaksanaan adalah hasil jalan tengah yang tenang dan seimbang.”

Dari kata-kata itu bisa diartikan bahwa kita harus selalu punya keyakinan untuk berhasil, harus selalu waspada terhadap kegagalan, harus mengerahkan kekuatan dan konsentrasi untuk mencapai usaha yang maksimal, dan bijaksana menyikapi apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Inilah yang saya sebut sebagai kelebihan saya, saya lebih terbiasa untuk bijak mengendalikan perasaan terhadap apa yang telah terjadi, atau untuk memudahkan pemahaman, kita sebut saja saya terbiasa untuk pasrah.

Bisa dikatakan ini semua adalah tentang merendah pada kekuasaan dan kekuatan yang lebih agung dan tentang pengendalian ‘rasa’ itu sendiri, dimana perasaan orang tentang ‘usaha yang terlalu keras’ atau ‘usaha yang kurang’ bisa dikonversi menjadi perasaan bahwa ‘usaha itu adalah usaha maksimal’ yang akan membuat orang merasa lebih tenang melihat apa yang telah terjadi namun lebih siap menghadapi apa yang akan datang. Oh, betapa hebatnya the power of feeling itu..

Jadi, ayam-ayamku,  intinya, rumus anti stress ala saya itu ada dua, berusaha maksimal dan kemudian pasrah. Berusaha maksimal berarti berusaha paling keras, bukan TERLALU keras. That’s it.

Sekian. Bila ada yang nggak mengerti apa arti tulisan ini, jangan khawatir, karena yang nulis juga nggak begitu mengerti.

Dan bila ada yang kecewa karena ketidaksinkronan judul dengan isi (saya sebenarnya merasa judul ‘Kutipan Tentang Rasa’ itu terlalu teenlit dan sedikit ababil karena untuk yang pertama baca pasti langsung diarahkan ke rasa cinta, sayang, dan kawan-kawannya), jangan khawatir, karena saya juga kecewa, kenapa saya belum bisa nulis cerita tentang cewek cowok SMA musuhan tiba-tiba pacaran, terus saling berkirim surat dengan kutipan kata-kata cinta dari luar angkasa yang saya nggak tau artinya?

 

Salam geje.

16/03/12

Pojok timur laut kamar pojok.

Simpang Sejuta

Kala kanan tak selamanya benar

Tanggara barat daya tak lagi mengepit selatan

Hati teracuni ide kecil yang membibitkan ketidakjuntrungan kehidupan

 

Demikian, aku telah berada di persimpangan

Berdiri terpekur menatap mega-mega yang menutupi si biduk besar

Terus bertanya, kapan datang halimun fajar?

 

Parasit lain mengemuka bahwa

Simpang sejuta ini paradoks belaka.

Kuambil jalan pinggir itu,

Dan totemku berhenti berputar.

 

 

untuk diriku

Ini bukan hanya kamu yang harus aku tunggu

Dan membuatku berhenti di tengah lorong suram tanpa dian

Merintih lirih ketakutan

Menggigil rebah kedinginan

Ini bukan hanya kamu yang mencampur tinta di palet ringkih

Menggores kuas seribu warna dalam kanvas putih

 

Aku kan berlalu

Mencari cercah cahaya surya

Atau kuas warna sejuta.

 

Aku tak ingin menunggu.

 

612012

Tentangtigatiga

Aku tak peduli

Berapa jumlah vertebra manusia

Jika tulang ekor ikut disertakan tiap ruasnya

Aku tak mengerti

Angka dalam skala Newton

Yang merujuk pada air seratus derajad.

Aku bahkan tak menyadari

Bahwa London, NewYork, Chicago dan Swiss duduk anggun sederajad di atlas dunia

Tentangtigatiga yang aku kata

Hanya sebuah rangkaian angka

Di papan pengumuman anatomi

Siang ini.

28112011

Pojokan kamar(sambil kipas2 kepanasan)

Dreamcatcher

Berlarilah para pengejar mimpi

Yang lalu hanya penunda keberhasilanmu

Berlarilah para penebar asa

Kau telah merasakan manisnya kekalahan,

Kali ini pasti benar jalanmu

Demi menyeruput sejumput kemenangan

Berlarilah! Terjang semua yang menghadang

Hanya satu hari ini, buktikan!

Bahwa bara di dadamu pun

Bisa membuat mentari berpaling iri.

Untuk teman2 yang tak lelah mencoba menggapai mimpinya.

2 juni 2011

teruntuk prokrastinasi

diam!

Kubilang, diam!

Tak taukah engkau

Anganku lagi berlari membawa pergi

Semua kefiktifan dalam pikiran

memenjarakannya di ruang usang.

Ku kunci.

Kau buka.

Apa maumu?

Katamu ini tentang kebebasan.

Bagiku kebebasan masih dalam ruang remang,

Yang tak kan pernah mampu kau terangkan.

Maka,

Bisakah kau hanya diam?

23/02/2011 08:28

Haramkah, haramkan, haramku

Aku tak pernah bermimpi untuk memulai semua ini

Pun, tak pernah berniat mengakhirinya.

Tapi kau hadir mengobrak-abrik logika

Membuatku terpana dalam buaian cinta

Kita tak pernah saling berucap manja,

Cukup ruang balok ini yang menjadi saksi,

Mesranya relasiku denganmu, relasimu denganku.

Biar para ulama menjatuhkan fatwa,

Dalam pandanganku,

halal,haram,sunnah atau mubah sudah tak berlaku antara kita.

Semua batasan itu membuatku gerah.

Namun, jujur saja,

keintiman ini membuatku lebih resah

karena aku tak pernah tak tahan goda saat ku melihatmu,

dekat denganmu.

Selalu, saat ku coba menjauh,

kau tetap berdiri tegak,tak bergerak.

Hingga akhirnya aku luluh menyadari

Sulit, sangat sulit. Tak bisa lepas darimu.

kini aku hanya bisa menundukkan muka,

mengiba kepadamu, kasurku di pojokan kamar

perkenankan aku menjauhimu.

Bolehlah kita bersama lagi, setelah ujian esok hari.

06/05/2011

Tentang Pemimpin Kami

Tuhan, tiba-tiba saja aku ingin bercerita,

Bercerita tentang sesuatu yang sangat jarang ku ceritakan, bahkan saat kita berduaan saja.

Tak jarang aku menonton berita di televisi,

Menyimak naiknya harga cabai, ledakan tabung gas, sampai dengan skandal anggota dewan yang terhormat.

 

Tuhan, aku jadi berpikir, betapa berat tugas pemimpin kami.

Memimpin hampir seperempat miliar kepala di tujuh belas ribu pulau yang berbeda.

Terlihat jelas,

Pemimpin kami yang dulu matanya berbinar gagah, sekarang terlihat agak sayu.

Mungkin karena kelelahan, atau tak sempat tidur malam,

Karena memimpin negara yang masih diberi label carut-marut oleh rakyatnya sendiri.

Kuatkanlah pemimpin kami.

 

Tuhan, aku tak meminta pemimpin seperti di negara sipit itu,

Yang masih setia memakai kertas, bukan kapsul, saat maju berpidato, karena tak suka menghamburkan anggaran negara.

Atau seperti pemimpin amerika latin itu,

Yang sehari setelah dilantik langsung memangkas gajinya sendiri, untuk dialihkan ke anggaran kesejahteraan masyarakat.

Aku juga tak meminta pemimpin seperti di negara teluk itu,

Yang tegasnya minta ampun, tak peduli dengan siapa dia berhadapan.

Aku hanya minta, berilah para pemimpin kami kemudahan dalam menjalankan tugasnya.

 

Tuhan, walaupun kami banyak memberikan kritik pedas kepada para pemimpin kami,

Melontarkan ketidakpercayaan maupun mempertanyakan arah kebijakan,

Engkau tahu pasti, kalau sebenarnya kami sangat mencintai mereka yang mewakili kami,

Engkau juga tahu pasti, berjuta kepala tertunduk khidmat tiap upacara,

melantunkan doa agar Engkau senantiasa melindungi pemimpin kami. Juga mengampuni segala dosa-dosanya.

 

Tuhan,

Mereka adalah orang pilihan yang pasti bisa membedakan yang salah dan yang benar

Namun, kami juga tahu pasti

Syetan telah berjanji padaMu untuk terus menjerumuskan anak Adam kedalam ketidakbenaran.

Maka, Tuhan, teguhkanlah iman para pemimpin kami.

 

Amin.

 

***

Saya lupa kapan tulisan ini dibuat, mungkin dulu saat harga cabai tiba-tiba naik tajam. Dan sayapun lupa kenapa saya nulis dengan tema seperti ini, mungkin juga karena cabai Thailand tak sepedas cabai lokal.