Travel dana mepet Singapura-Malaysia-Thailand (Part 2)

Day 5. Hatyai, Thailand

Saya ingat dulu saat belajar Geografi di SMP bahwa kedudukan matahari itu berubah-ubah sepanjang tahun, antara tanggal 21 Maret sampai 21 Juni kedudukan matahari berada diantara 00 – 23,50 lintang utara. Setelah saya cek, posisi Thailand di peta adalah 50 – 210 lintang utara. Perlu diketahui bahwa pada tanggal 13 – 15 April merupakan puncak musim panas karena posisi matahari berada tepat diatas Thailand *yang kemudian dirayakan sebagai hari tahun baru Thailand atau terkenal dengan nama Songkran*. Dan saya berada di Thailand mulai tanggal 15 – 18 April. Apa artinya semua hal yang saya kemukakan tersebut? Artinya DISINI PANAS BANGEEEEEEEEET #melting #freetanning.

Kita bertiga sampai di Hatyai jam 8 pagi, jauh lebih cepat dari perkiraan. Setelah turun di kantor cabang Alisan Golden Coach di Chee Uthit Road Hatyai dan menitipkan ransel, kita mencari tempat sarapan. Ternyata di sekitar jalan tersebut ada beberapa tempat makan halal food. Kita langsung masuk ke salah satu tempat makan dan memesan nasi goreng dan es teh yang ternyata bentukannya berupa Thai milk tea. Rasanya mirip makanan di Indonesia. Lumayan untuk mengganjal perut.

nasi goreng dan Thai milk tea :d

nasi goreng dan Thai milk tea :d

C360_2014-04-15-07-53-42-907

sambal di Thailand

sambal di Thailand. lucu :3

bentukan sambal di Thailand. Lucu :3

Selesai makan kita naik tuk tuk menuju stasiun kereta. Banyak sarana transportasi di Thailand yang menurut saya masih kalah dengan sarana transportasi di Indonesia. Contohnya kereta api dan bis. Bahkan PT. KAI-nya Thailand sampai saat saya kesana kemarin belum menyediakan jasa reservasi tiket online, jadi tiap penumpang harus datang langsung ke stasiun atau ke travel agent buat beli tiket. Selain itu, sepanjang yang saya lihat, bentukan kereta api thailand *nggak tahu kelas apa* nggak sebagus kereta api ekonomi Indonesia, dan jumlah gerbongnya juga paling banyak 3-5 gerbong aja. Kurang majunya sistem perkeretapian Thailand inilah yang kemudian membuat saya dan kedua teman saya mengganti rencana besar-besaran selama di Hatyai.

Menurut rencana awal, kita bertiga hanya berjalan-jalan di Hatyai selama beberapa jam, kemudian naik kereta api ekonomi dengan bed menuju Bangkok. Ternyata setelah sampai stasiun kita kehabisan tiket ke Bangkok untuk hari itu. Ya iyalah kehabisan, lha wong kita lihat jumlah gerbong keretanya aja segitu doang. Kita pun berubah rencana, kita keliling kota Hatyai menggunakan tuk tuk sampai menjelang sore dan naik bis ke Bangkok sore harinya.

Mari diambil hikmahnya saja, perjalanan ke Bangkok naik bis sebenarnya lebih cepat daripada naik kereta, jadwal bis berangkat jam 6 sore dan sampai Bangkok jam 6 pagi, bandingkan dengan perjalanan kereta yang berangkat jam 3 sore dan sampai Bangkok jam 9 pagi. Dan satu hikmah lagi, jadinya kita malah jalan-jalan keliling Hatyai nih..hehe..

Kita muterin kota Hatyai mulai dari tengah kotanya, mengunjungi Wat atau candi di sana, ke Hatyai Municipal Park yang ternyata sedang mengadakan international lantern festival *sayang banget kita di Hatyai nggak sampai malam*, sampai dengan ke Samila beach yang super duper terik di pinggiran Hatyai.

Wat Hatyai Nai di tengah kota

Wat Hatyai Nai di tengah kota

International Lantern Festival

International Lantern Festival

20140415_101932

Standing Buddha di puncak bukit

kota Hatyai dari atas bukit

C360_2014-04-15-10-25-25-920

pose sama gajah Thailand

selfie sama gajah Thailand

Mermaid at Samila Beach

Mermaid at Samila Beach

Tom and Jerry di Samila Beach

Tom and Jerry di Samila Beach

ini gimana bacanyaaaaa

ini gimana bacanyaaaaa

air minum di Thailand (kiri) dan air accu di Indonesia (kanan) - wadahnya mirip

air minum di Thailand (kiri) dan air accu di Indonesia (kanan) – wadahnya mirip

Sekitar jam 2 siang wisata keliling Hatyai dengan tuk tuk sudah selesai. Kita bertiga diantar kembali ke travel agent tempat membeli tiket bis. Sebelum berangkat ke Bangkok kita siap-siap makan dulu di KFC Robinson Hatyai, niatnya sih biar nggak kelaparan di bis nantinya, ternyata eh ternyata, harga tiket bis itu udah termasuk 1 kali dinner di rest area. Yah, uangku melayang.. L L L

Day 6. Bangkok, Thailand

Welcome to Bangkok..

Apa kesan pertama sampai di Bangkok? Bangkok itu panas banget, Bangkok itu taksinya banyak banget dan warna warni, Bangkok itu tulisan di papan pengumumannya mlungker-mlungker semua, dan orang Bangkok itu jarang ada yang bisa bahasa Inggris. Yep! The real adventure is coming.

mlungker semua tulisannya

mlungker-mlungker semua tulisannya

Kita sampai di terminal Morchit Bangkok jam 7.30, dan kita jadi orang hilang disana. Kita nggak tahu posisi kita dimana. Kita nggak punya peta karena di terminal nggak ada peta gratis, kalau mau punya peta harus beli di sevel dengan harga yang lumayan mahal, dan tentu saja kita bertiga nggak mau beli. Hahaha.. Dan untuk menggunakan wifi gratis di Thailand ternyata ada alur registrasinya. Ribet amat dah..

Setelah hampir dua jam ngendon kebingungan di dalam terminal kita akhirnya memutuskan untuk move on. Kita coba jalan kaki menuju terminal BTS terdekat yang ternyata jauh banget. Daripada kecapekan kita memutuskan buat naik taksi ke penginapan. Setelah sepakat harga sama pak supir kita duduk manis menikmati kota Bangkok dari dalam taksi. Penginapan kita berada di Samsen Road Soi 6, ‘Soi’ itu semacam ‘gang’ kalau di Indonesia. Nama penginapannya adalah Roof view place.

Kita sampai di penginapan masih jam 10 pagi sedangkan jadwal check in sebenarnya adalah jam 1 siang, tapi waktu kita sampai kita diperbolehkan langsung check in dan masuk kamar. Wah senangnyaaaa.. Selain itu kita dikasih peta Bangkok gratis dari penginapan, untung tadi nggak jadi beli peta di sevel *happy dance di depan resepsionis*. Kamar yang kita sewa lumayan luas, bersih dan bagus, jauh lebih bagus dan lebih murah daripada hostel kita di Singapura, maklum saja, biaya hidup di Singapura kan emang mahal bingit dibanding di Bangkok..

peta Bangkok Sky Train (BST)

peta Bangkok Sky Train (BST)

Setelah bongkar muatan dan mandi *akhirnya mandi lagi.. Terharu* dan shalat, tepat jam 1 siang kita berangkat ke Grand Palace. Niatnya sih mau pakai taksi karena cuacanya lagi terik banget tapi ternyata tarif taksi mahal banget dan nggak mau ditawar, alhasil kita ke Grand Palace naik tuk tuk, biar berasa beneran lagi di Thailand gitu *dan biar patungannya lebih murah.hehe*. Tiket masuk Grand Palace buat wisatawan manca negara cukup mahal, 500 baht. Tapi tiket itu juga mencakup tiket ke beberapa objek wisata lain seperti Wat Phra Kaew atau Temple of Emerald Buddha, Vimanmek Mansion Museum, Support Abhisek Dusit Throne Hall, Sanam Chandra Palace, Ananta Samakhom Throne Hall dan The Pavilion of Regalia. Lumayan lah ya..

grand palace dari luar

grand palace dari luar

Wah Phra Kaew

Wah Phra Kaew

Grand Palace

Grand Palace

Puas muter-muter kepanasan di Grand Palace dan Wat Phra Kaew kita jalan kaki menuju Wat Pho. Di tengah jalan kita dihampiri oleh penduduk lokal yang bilang kalo Wat Pho lagi tutup, terus dia nawarin kita bertiga muter-muter naik perahu ke Wat Arun dan floating market, tapi harganya itu lho.. 600 baht tiap orang. Jelas aja langsung kita tolak, emang mau bayar pakai apa, pakai daun? Kita lanjutin jalan kaki ke Wat Pho dan ternyata Wat Pho nggak tutup! Hampir aja tadi kita kena tipu, untung kita dalam posisi nggak punya uang *baru kali ini saya nggak punya uang tapi malah senang*.

Wat Pho

Wat Pho

Reclining Buddha at Wat Pho

Reclining Buddha at Wat Pho

panjaaaaaaaaaang banget

panjaaaaaaaaaang banget

Habis dari Wat Pho kita jalan kaki nyari tempat penyebrangan perahu ke Wat Arun yang ternyata letaknya nggak jauh dari Grand Palace. Naik perahu nyebrang ke Wat Arun cuma bayar 3 baht sekali jalan. Di Wat Arun saya dan teman-teman nggak masuk ke dalam Wat dan foto-foto di pelatarannya aja, lumayan buat ngirit beli tiket 50 baht.. Sayangnya kita pulang dari Wat Arun sebelum matahari tenggelam karena takut kemalaman. Padahal pemandangan Wat Arun sebelum matahari terbit atau matahari tenggelam itu keren banget, makanya Wat Arun dijuluki The Temple of Dawn.

Wat Arun

Wat Arun

Wat Arun Sunset by Noppakun Dibakomuda

Wat Arun Sunset by Noppakun Dibakomuda

Kita pulang dari tempat penyebrangan perahu Tha Tien di seberang Wat Arun menuju ke Phra Arthit yang jaraknya paling dekat dengan penginapan kita. Tiket naik perahu menyusuri sungai Chao Praya jauh lebih murah daripada naik taksi, kalau naik perahu yang tanpa bendera cukup bayar 10 baht, perahu bendera orange 15 baht, perahu bendera kuning 20 baht, dan perahu bendera biru 40 baht, mau naik jauh dekat sama aja bayarnya. Jelas, kita nunggu kedatangan perahu tanpa bendera atau yang orange lah..haha..

Rute Chao Phraya Express Boat

Rute Chao Phraya Express Boat

Di sepanjang jalan Phra Arthit kita bisa nemuin beberapa lapak kaki lima penjual halal food. Alhamdulillah rasa makanannya juga nggak beda-beda jauh dari makanan Indonesia. Perut udah kenyang, saatnya balik ke penginapan. Usai mandi dan shalat kita jalan lagi ke kawasan Khaosan Road yang terkenal itu tuh.. Di Khaosan Road ada beberapa penjual oleh-oleh khas Thailand. Eits, hasrat belanjanya harus di rem dulu karena jadwal shopping-shopping kita baru dimulai besok pagi. Hahahaha *tawa kemenangan*

Bus di Bangkok, bagusan di Indonesia kan ya?

Bus di Bangkok, bagusan di Indonesia kan ya?

Tuk tuk, Thailand's bemo (?)

Tuk tuk, Thailand’s bajaj (?)

Day 7. Bangkok

Hari kedua di Bangkok. Pagi-pagi kita sarapan di penginapan *sarapannya yahud dan feels like home banget, ini penginapan recommended banget dah..haha*. Usai sarapan kita langsung naik taksi menuju Jim Thompson House and Museum di daerah Siam. Berdasarkan info dari berbagai artikel bilang kalau harga tiket masuk Jim Thompson House and Museum itu 100 baht, tapi sampai sana kita dapat kejutan, buat pengunjung dibawah 25 tahun tiketnya cuma 50 baht. Alhamdulillah sisanya bisa dialokasikan buat belanja nanti..hahaha.

Jim Thompson House

Jim Thompson House

belajar tentang Thai Silk di Jim Thompson House

belajar tentang Thai Silk di Jim Thompson House

C360_2014-04-17-10-10-16-026

Selesai muterin Jim Thompson House kita jalan kaki menuju Siam Discovery, disinilah kita akhirnya merasakan gimana rasanya bergaya layaknya pelancong berduit lainnya, kita masuk ke Madame Tussauds dong *padahal bisa masuk gara-gara beli tiket online dan early bird yang didiskon 40%*.

titip salam ke bang Rooney buat Oom Lampard

titip salam ke bang Rooney buat Oom Lampard

akhirnya ketemu oom Ken #terharu

oom Ken rambutnya habis kena angin topan

Puas reuni sama para selebritis kita kembali ke dunia nyata lagi, kembali berjalan kaki berpeluh ria menuju Pratunam market. Hahaha.

Pratunam market

Pratunam market

Masuk Pratunam kita saya langsung kalap belanja gitu.. Langsung deh berubah image dari yang awalnya bawa barang bawaan paling ringkas sekarang jadi nitip-nitip barang bawaan ke koper teman gara-gara ransel saya udah nggak muat dimasukin barang lagi.

Keluar dari Pratunam market kita nyebrang ke Platinum Mall yang merupakan pusat grosir fashion di Bangkok. Disini sebenarnya mata saya jauh lebih kalap daripada di Pratunam, banyak banget tas-tas dan barang keren lain yang dijual dengan harga miring. Alhamdulillah uang saya udah mepet terkuras di Pratunam tadi, jadi saya nggak bisa perlu beli barang lagi. Lagian udah nggak ada space di ransel juga. Ingin rasanya berteriak: “cukup belanjanya.. cukuuuuup..” *padahal dalam hati berniat kalau kapan-kapan ke Bangkok lagi saya bakal bawa uang lebih banyak dan ransel yang lebih gede. Hahaha*

Platinum fas

Platinum fashion mall

Selesai belanja di Platinum Mall niatnya kita bertiga mau mampir ke MBK *belanja lagi*. Tapi melihat tangan kita bertiga yang udah memegangi kantong belanjaan segede gaban *dan isi dompet yang mulai batuk-batuk* kita coret deh plan ke MBK. Langsung pulang ke penginapan dan makan malam di Phra Arthit *lagi*.

Day 8. Bangkok

Hari terakhir di Bangkok kita udah nggak punya rencana mau jalan-jalan kemana. Kita yang awalnya berapi-api mau ke pantai di Pattaya langsung melempem setelah ngerasain betapa panasnya Thailand. Kitapun cuma nongkrong nonton TV di penginapan sampai jam 11 siang, sekalian nunggu waktu check out tiba.. Hahaha..

Selesai check out dari penginapan kita bertiga naik taksi ke Vimanmek Mansion. Cuaca lagi panas banget tapi pengunjung Vimanmek tetap aja membeludak, padahal bukan musim liburan juga. Setelah taruh barang-barang di loker kita langsung muterin Vimanmek mansion sendirian, dan ternyata semua keterangan di dalam Vimanmek mansion itu ditulis dengan huruf Thai yang mlungker-mlungker nggak jelas, ya kita nggak mudheng lah.. Akhirnya kita berniat muter Vimanmek sekali lagi tapi dengan mengikuti tur bahasa Inggris keliling mansion yang diadakan tiap jam 11 dan 2 siang, biar mudheng apa isi Vimanmek Mansion gitu lho..Nggak asal muter-muter aja.

PANO_20140418_143608

Vimanmek Mansion

Di Vimanmek ini kita dilarang membawa barang apapun ke dalam mansionnya, termasuk kamera dan hp, jadi kita cuma bisa ambil gambar dari luar mansion. Sebenarnya di sekitar Vimanmek mansion ada beberapa museum lain yang bisa dimasuki menggunakan tiket masuk Vimanmek, tapi karena kita juga udah harus ada di bandara sebelum jam 5 sore jadi kita nggak sempat muter-muter ke museum lain.

Kita sampai bandara Don Mueang sebelum jam 4 sore. Setelah muter-muter nyari oleh-oleh di toko bandara dan beli mie instan rasa Tom Yam buat ganjal perut pengganti makan malam kita langsung check in masuk ke pesawat.

Don Mueang International Airport

Don Mueang International Airport

Nggak kerasa udah 4 hari di Thailand, nggak kerasa udah 4 kali dengar lagu kebangsaan Thailand diputar tiap jam 8 pagi, nggak kerasa udah 4 hari lihat TV tanpa tahu apa yang dibicarain orang-orang di TV *karena pakai bahasa dan tulisan Thai semua*, nggak kerasa udah terbiasa ngobrol dan nggosipin apapun di tengah orang-orang tanpa bisik-bisik *lha nggak ada yang mudheng omongan kita juga*. Saatnya berkata bye bye Bangkok.. Khob khun kha..

Khob khun kha...

Khob khun kha…

Day 9. Jakarta – Jogja

Welcome to Indonesia.

Setelah seminggu di negeri orang rasanya bahagia banget bisa menginjakkan kaki di tanah Indonesia Raya lagi..hehe..

Minggu yang hebat dan penuh kenangan buat saya. Sekarang saatnya kembali ke dunia nyata, kembali ke kampus, kembali berjuang, kembali nggak punya waktu libur panjang, kembali menabung, dan kembali merencanakan trip untuk dua tahun lagi. Hahahaha..

Salam geje dan salam tedeem (traveler dana mepet –red)

Boat-at-sunset-with-mark-twain-quote

Yang mau lihat rincian pengeluaran di trip saya ini silakan lihat disini ->Singapore-Malaysia-Thailand

Travel dana mepet Singapura-Malaysia-Thailand (Part 1)

Bulan April 2014 tampaknya harus dilingkari besar-besar di kalender kehidupan saya karena banyak kejadian penting terjadi di bulan ini. Untuk pertama kalinya saya pegang e-ktp saya *yang diantarkan petugas kelurahan ke rumah karena saya nggak segera ambil itu e-ktp sejak berbulan-bulan lalu*, untuk pertama kalinya saya punya paspor, untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang, dan untuk pertama kalinya saya berada di negara selain Indonesia. Yeeeehhaaaaa..

Menurut peta hidup saya, rencananya saya akan pergi ke luar negeri di tahun 2016 setelah saya menyelesaikan pendidikan profesi (dan utamanya, setelah tabungan saya cukup.hehe). Tapi apa mau dikata, kadang hidup memang nggak selalu sesuai dengan rencana yang kita buat. Tiba-tiba saya punya banyak waktu luang di tahun 2014, tiba-tiba saya mendapatkan dua orang teman yang sama-sama nggak punya kerjaan dan sama-sama ingin ke luar negeri, dan tiba-tiba ada donatur baik hati yang membuat tabungan saya cukup buat rencana jalan-jalan saya yang lumayan mendadak ini (superduper big thanks to my parents :D).

Mulailah saya dan teman-teman mengatur rencana perjalanan. Setelah dilanda beberapa kali kegalauan tingkat semesta alam yang bikin rencana kita nggak matang-matang, akhirnya kita memutuskan untuk ke Singapura-Malaysia-Thailand dalam 8 hari aja. Waktu yang sangat sempit sih kalau menurut saya. However, lets make this 8 days be a wonderful days ya..

Buat yang ingin tahu budget, transportasi, akomodasi dan blablabla, semuanya –termasuk hal sepele seperti bayar toilet pun– saya tulis disini ->(Singapore-Malaysia-Thailand)

Sebenarnya perjalanan saya ini bukan termasuk tipe backpacker karena masih banyak hal yang bisa dibuat lebih irit, seperti memilih hostel/penginapan yang bertipe asrama *saya dan teman-teman memilih kamar hostel private room*, naik taksi bisa diganti jadi naik bis umum, nggak masuk ke tempat wisata mahal, dan nggak beli oleh-oleh *karena ini yang bikin budgetnya membengkak.hehe*. Sementara ini anggap aja saya seorang traveler, bukan seorang backpacker. 🙂

Dan tentang perjalanannya, this is the recap *recapnya bakalan panjang banget, siapin kopi dan kacang kulit sekarang biar nggak ngantuk*.

Day 1. Jogja – Jakarta

Perjalanan saya dimulai dari Jogja. Karena saya dan teman saya nggak dapat tiket pesawat murah dari Jogja ke Singapura akhirnya kita memutuskan untuk naik kereta ekonomi ke Jakarta dulu, baru kemudian naik pesawat ke Singapura.

Perjalanan baru dimulai dan udah ada konflik yang terjadi, saya hampir aja ketinggalan kereta. Adegan saya hampir ketinggalan kereta emang nggak sedramatis adegan Ian ketinggalan kereta di film 5 cm sih.. Saya udah berhasil masuk kereta satu detik sebelum keretanya mulai jalan, tapi itu aja udah bikin saya deg-degan banget. Sampe Jakarta aja belum, saya udah hampir mengacaukan rencana terbesar di bulan ini. Dan ternyata di dalam gerbong kereta, teman saya jauh lebih deg-degan, jauh lebih cemas, dan jauh lebih panik mengira saya benar ketinggalan kereta. Lha ini yang ketinggalan siapa, yang panik siapa.

Day 2. Jakarta – Singapura

Penerbangan pertama saya menggunakan maskapai Tiger Air ke Singapura jam 9.45 pagi. Sengaja kita pilih penerbangan pagi biar bisa lebih lama di Singapura walaupun tiketnya agak mahal sedikit. Lha ngapain juga beli tiket yang murah tapi sampai Singapura malam, sama aja nggak bisa jalan-jalan dan cuma bayar tidur di hotel dong..

Sampai Changi kita segera menghampiri keran air minum gratis *mental gratisan masih lestari walaupun di negeri orang* dan dengan pedenya kita nggak ngisi botol air minum yang udah kita persiapkan buat ngisi air gratis karena banyak blog yang bilang banyak kran air minum gratis tersebar di tempat-tempat umum di Singapura *disana beli air mahal, bro*. Sampai suatu ketika kita sadar bahwa statement itu hanyalah bualan semata, dan itu hanya statement penuh intrik dan drama *maaf, lebay*. Saya 2 hari di Singapura nggak nemuin kran air minum dimanapun kecuali di Changi, saya ulang sekali lagi, DIMANAPUN KECUALI DI CHANGI. Saya nggak tahu, ini kita bertiga yang nggak bisa cari atau emang krannya yang nggak ada. Jadi saran saya, dari Indonesia bawalah botol Aqua 1,5 liter yang banyak di koper anda *atau bawa dirigen air sekalian* dan isi air sepuasnya di Changi.

keran air minum gratis DI CHANGI

keran air minum gratis DI CHANGI

Di Changi saya dan teman-teman kebingungan mau ngapain setelah turun dari pesawat, maklum, nubi penerbangan ke luar negeri. Setelah muter-muter nggak jelas akhirnya kita ke tempat cap imigrasi, berharap antrinya nggak lama dan petugasnya nggak galak-galak seperti yang sering diomongkan orang di blog-blog. Ternyata nggak ada antrian di imigrasi, petugasnya pun santai-santai dan ngecap paspor kita sambil menggosip bareng temannya. Pelajaran pertama, jangan mudah percaya semua kata orang. Sesaat kemudian cap imigrasi luar negeri pertama di paspor sudah terpampang dengan indahnya. Oya, jangan lupa ambil peta Singapura gratis di Changi. Percayalah, ketika di luar negeri kita akan memperlakukan peta sama pentingnya dengan emas permata *lebay*.

Jalur MRT-LRT Singapura

Jalur MRT-LRT Singapura

Setelah ngecap paspor kita mulai mencari stasiun MRT Changi. Jalan sana sini, muter kanan kiri, naik sana turun sini, akhirnya kita sampai di bagian lost and found. Awalnya saya pengen masuk bagian itu, bilang kalau hati saya juga lost dan belum ada yang nge-found #plak, tapi Alhamdulillah nggak jadi. Bukan karena hati saya sudah di found orang, tapi karena ada tanda stasiun MRT yang tiba-tiba hadir di depan mata. Mari kita lanjutkan perjalanan ke jalan yang benar. Proses beli tiket MRT pertama kali berjalan lancar karena selain emang prosesnya gampang, sebelumnya kita udah mengamati beberapa orang yang beli tiket duluan, biar nanti nggak dibilang katrok gara-gara salah pakai mesin tiket. hehe..

tolong, hati saya lost...

hati saya ada di situ nggak ya… #plak

Karena kita sampai Singapura jam 1 siang, kita langsung jalan menuju hostel buat check in. Kita menginap di daerah Little India. Kata orang-orang hostelnya lebih dekat dengan stasiun MRT Bugis daripada stasiun MRT Little India, tapi mengingat pelajaran pertama yang udah kita dapat tadi, kita pilih turun di stasiun Little India. Setelah sampai di Little India yang pertama kali saya pikirkan adalah “ini daerah baunya kayak jamu banget, kok pada kerasan ya”. Nggak lama muter-muter akhirnya ketemulah itu ‘Kawan hostel’ di 28 Dunlop Street. Tepat di depan Masjid Little India. Sip deh.

Setelah check in, naruh barang dan beli air mineral 1,5 liter buat bertiga *harganya 1.5 SGD atau sekitar 14.000an* kita langsung jalan kaki ke Bugis street. Di perjalanan menuju Bugis street kita melewati stasiun MRT Bugis, dan hostel kita ternyata memang lebih dekat ke stasiun Bugis. Wah wah.. Pelajaran kedua, jangan mudah nggak percaya sama kata-kata orang. Hahaha..

Bugis street

Bugis street

Setelah jalan-jalan dan beli oleh-oleh di Bugis street kita menuju Masjid Sultan untuk shalat Ashar. Selagi menunggu Maghrib saya dan teman-teman mencoba makan nasi briyani yang porsinya super guede di kedai makanan halal yang banyak berjajar di depan masjid Sultan. Pesan dua porsi buat bertiga, dan tetap aja itu nasinya nggak habis. Sebenarnya perut saya belum kenyang, tapi lidah saya ternyata nggak doyan makan nasi briyani. Rasanya kayak makan jamu, tiap suapan nasi saya harus menahan napas biar nggak ngerasain baunya. :p

masjid Sultan

masjid Sultan

nasi briyani yang porsinya super guede

nasi briyani yang porsinya super guede

Usai makan dan shalat maghrib kita naik MRT ke Raffles. Apalagi yang dicari di Singapura kalau bukan Marina Bay Sands, Esplanade, Singapore Flyer dan patung Merlion-nya.

C360_2014-04-12-19-28-39-416

merlion and marina bay sand at night

Sesi foto-foto berakhir, naik MRT lagi ke daerah Clarke Quay. Clarke Quay adalah daerah tempat makan dan tempat hiburan kelas menengah ke atas yang ada di pinggiran sungai gitu.. Berhubung kita enggak masuk kategori menengah, apalagi kategori atas, jadi kita cuma kongkow-kongkow di pinggiran sungai aja. Lumayan lihat lampu-lampu indah di bangunan-bangunan lama sepanjang Clarke Quay. Di Clarke Quay juga ada spot buat gantungin ‘gembok Cinta’ kayak di Pont de Arts, Paris. Kalau mau jualan gembok disana pasti laku keras deh…

Clarke Quay

Clarke Quay

gembok-gembok cinta di Clarke Quay

gembok-gembok cinta di Clarke Quay :3

Sebelum jam 11 malam kita balik hostel lagi naik MRT, beli air mineral di hostel lagi *oh nooo, my money..*, dan bersiap tidur setelah menempelkan koyo di sekujur kaki.

Day 3. Singapura – Johor Bahru, Malaysia

Pagi-pagi kita udah sarapan di hostel, menyiapkan cadangan energi karena hari ini rute jalan kakinya lebih panjang dari hari pertama. Dan yang pasti, kita beli air mineral 1 botol lagi. Selesai makan kita langsung check out dari hostel. Barang bawaan kita titipin dulu di hostel biar nggak perlu bawa-bawa barang di jalan. Semua siap, langsung jalan ke stasiun MRT Bugis dan beli tiket ke Raffles lagi, mau nengok Merlionnya ganti pose apa nggak.

ternyata masih tetap sama

ternyata masih tetap sama

PANO_20140413_090704

Setelah lihat Merlion perjalanan dilanjutkan ke Harbour Front. Kemana tujuan kita selanjutnya? Definitely Sentosa Island *berasa orang kaya. Hahaha*. Karena kita nggak beli tiket masuk kemanapun di Sentosa *namanya juga traveler dana mepet* yang penting foto-foto dulu dah..

Merlion di Sentosa Island

Merlion di Sentosa Island

Walau nggak masuk yang penting punya foto wajib globe ini dulu...

Walau nggak masuk yang penting punya foto wajib globe ini dulu

OMG candycandycandy everywhere

OMG candycandycandy everywhere

pantai di Sentosa

pantai *lupa namanya* di Sentosa

Selesai foto-foto di Sentosa kita menuju Chinatown. Atas dasar mempertimbangkan dan memperhatikan kesehatan isi dompet, saya nggak belanja apa-apa di Chinatown dan kita langsung berangkat ke Orchard Road. Eits, jangan salah, walaupun di Chinatown saya nggak mampu beli apa-apa tapi di Orchard Road saya justru mampu beli sesuatu: es krim khas Singapore seharga 1 SGD :d :d :d

es-krim-potong-singapore

es krim Singapura :d

20140413_153135

dapat ayam panggang gratis promo dari Phillips di Orchard road 😀

Beres makan es krim kita balik lagi ke hostel buat ambil barang. Jam 5 sore kita siap-siap menuju Johor Bahru, Malaysia. Pertama kita harus naik MRT menuju Woodlands dulu. Untuk bekal makan malam kita beli take away di Ananas cafe stasiun MRT Sembawang. Sebenarnya ini suatu pemborosan karena ternyata di stasiun MRT Woodlands juga ada Ananas cafe dan harganya lebih murah daripada di Sembawang *tepok jidat*. Karena ketidaktahuan, ya sudah itu boros dikit dimaklumi aja.

Sampai di stasiun Woodlands kita turun ke lantai bawah dan ganti menggunakan bis kota nomor 950 tujuan Johor Bahru. Oya, saat naik bis kota nomor 950 pastikan kita membayar menggunakan uang pas, karena sistem tiket bis kotanya nggak bisa ngasih kembalian. Tanya aja ke supirnya berapa harga tiket ke Johor Bahru. Di tengah perjalanan kita akan diturunkan di imigrasi Singapura dulu buat dapat cap imigrasi. Pas mau turun ini bawalah semua barang bawaan, karena setelah ngecap belum tentu kita bisa naik bis dengan supir yang sama. Setelah urusan cap-cap an selesai kita langsung naik bis 950 lagi. Ingat, kalau berangkat ke imigrasinya pakai bis 950 keluar dari imigrasi juga pakai bus 950 *bukan bis atau supir yang sama nggak apa-apa, yang penting sama-sama rute nomor 950*. Perjalanan ke Johor Bahru pun dilanjutkan. Kenapa kita ke Johor Bahru? Karena kita akan naik kereta dari Johor Bahru Sentral ke Kuala Lumpur Sentral. Emang nggak ada kereta dari Singapura ke KL langsung? Ada. Kenapa nggak naik yang langsung aja? Karena kalau naik kereta dari Singapura, maka harga tiketnya jauh lebih mahal karena dibayar menggunakan dollar Singapura, kalau naiknya dari Johor Bahru lebih irit karena bayarnya pakai ringgit.

Kita sampai di Johor Bahru Sentral kira-kira jam 8 malam, selesai mengurus imigrasi di Johor Bahru orkestra perut mulai dangdutan. Makan malam dulu di pinggiran pintu masuk Johor Bahru Sentral. Dilihatin orang yang lalu lalang? Masa bodo, nggak kenal juga. Selesai makan kita nunggu kereta Senandung Sutera yang akan membawa kita ke Kuala Lumpur.

Goodbye Singapore..

Day 4. Kuala Lumpur, Malaysia

Jam 7 pagi kereta Senandung Sutera sampai di Kuala Lumpur Sentral. Karena kita cuma satu hari di KL, kita mandi di bilik mandi KL sentral dan menitipkan barang di loker. Lumayan irit daripada booking hostel..hehe.. Nggak lupa, kita juga minta peta KL gratis ke bagian informasi di KL sentral.

jalur MRT LRT Kuala Lumpur

jalur MRT-LRT Kuala Lumpur

Selesai mandi dan sarapan di McD KL sentral kita menuju Batu Caves menggunakan komuter line. Beli tiketnya di depan gerai McD. Perjalanan ke Batu Caves nggak terlalu jauh, kira-kira 25-30 menitan. Masuk kawasan Batu Caves kita langsung disambut terik matahari dan kotoran burung dimana-mana.

larangan di MRT Malaysia : dilarang berkelakuan sumbang :3

larangan di MRT Malaysia : dilarang berkelakuan sumbang :3

Batu Caves

Batu Caves

C360_2014-04-14-10-41-07-935

ratusan te-tangga-an di Batu Caves

Gimana rasanya jalan-jalan di Batu Caves? Naik 272 anak tangga – foto-foto – turun 272 anak tangga, jadi ingat makam Sunan Muria atau waktu naik Bromo. Hahaha.. Setelah turun dari Batu Caves kita bertiga langsung dehidrasi, dan betapa bahagianya melihat harga air mineral di Malaysia yang mendekati harga normal di Indonesia *happy dance dulu*.

Pulang dari Batu Cave naik komuter line lagi, kali ini turun di Kuala Lumpur. Jalan dikit dari stasiun KL, kita sampai ke Petaling street atau Chinatown-nya Kuala Lumpur. Karena kita datangnya terlalu awal jadi toko-toko baru pada buka. Dan berbeda dengan Chinatown di Singapura, barang-barang yang dijual di Petaling street kebanyakan bukan oleh-oleh khas Malaysia, tapi tiruan barang-barang branded alias KW. Minat belanja jadi surut, lanjut jalan kaki lagi ke Central Market.

Petaling street

Petaling street

C360_2014-04-14-12-37-04-092

Katanya Central Market atau Pasar Seni ini adalah pusat oleh-oleh khas Malaysia. Tips belanja di Central Market, lebih baik muter-muter dulu cari barang yang kira-kira ingin kita beli, bandingkan harga antar toko dan jangan lupa tawar, karena ternyata harga barang di satu toko dengan toko lainnya berbeda-beda. Dan bedanya lumayan banyak..

Udah dapat buah tangan murah di Central Market kita jalan lagi menuju Masjid Jamek Kuala Lumpur, shalat sekaligus mengistirahatkan kaki dulu. Pengunjung yang masuk area Masjid Jamek harus memakai pakaian yang sopan, buat yang dirasa pakaiannya kurang sopan akan dipinjami jubah oleh pengurus masjid.

Majid Jamek KL

Majid Jamek KL

C360_2014-04-14-15-10-25-547

mbak bule dengan jubah dementor ungunya

C360_2014-04-14-15-09-50-264

“ketika mbak-mbak bule berhijab”

Rencananya setelah shalat di Masjid Jamek kita mau ke Dataran Merdeka, eh, nggak tahunya tiba-tiba gerimis datang. Rencana ke Dataran Merdeka batal, langsung lanjut naik LRT RapidKL Kelana Jaya Line dari stasiun LRT di depan Masjid Jamek ke KLCC.

koin token LRT

koin token LRT rapidKL

Sampai di KLCC hujan masih mengguyur. Ya udah, kita santai-santai keliling mall Suria KLCC, lumayan buat window shopping *karena kita nggak belum mampu shopping beneran disini*. Bosen udah muter-muter nggak jelas dan hujan belum juga reda, akhirnya kita nongkrong di sebelah lapak The Coffee Bean and Tea Leaves, eh ternyata sinyal wifi lapak sebelah bisa nyangkut di hp. Update dulu ah.. Ngasih kabar emak bapak nun jauh disana yang udah mulai bertanya-tanya dimana gerangan anaknya ini nyasar. Hahaha..

Menjelang sore hujan udah berhenti. Mulai jalan kaki nyari spot foto menara petronas yang keren. Setelah muter keliling menara petronas, akhirnya kita berhenti di samping air mancur taman KLCC dan mulai foto-foto. Ternyata saudara-saudara, memotret menara setinggi 452 meter itu nggak ada gampang-gampangnya sama sekali. Kita motret dari bawah, ujung atas menaranya nggak kena, kita motret ke bagian atas, bagian bawah menaranya nggak kefoto. Butuh perjuangan banget biar dapat angle foto yang pas.

hilang atasnya

hilang atas dan sampingnya

hilang bawahnya

hilang bawahnya

akhirnya bisa lengkap

akhirnya bisa lengkap

Rencana awal kita mau stay di KLCC sampai habis maghrib, jam 7 malam lanjut ke KL tower, jalan ke Bukit Bintang baru kemudian ambil barang bawaan di loker KL sentral. Tapi kita lupa satu hal, waktu di KL adalah 1 jam lebih cepat daripada di Jakarta, dan waktu maghribnya adalah jam 7.18 malam. Waduh, kelamaan nongkrong di KLCC kan jadinya..

Usai shalat maghrib dan foto-foto menara petronas versi malam tiba-tiba gerimis kembali datang. Duh, cepat-cepat menuju stasiun monorel Bukit Nanas, jangan sampai kehujanan. Rencana ke KL tower dibatalin karena jadwal selanjutnya udah terlalu mepet. Langsung naik monorel ke Bukit Bintang dan cari jalan Alor, karena katanya di jalan Alor banyak kedai-kedai makanan di malam hari. Nggak disangka, ternyata makanan di jalan Alor isinya kebanyakan Chinese food. Yah, daripada bimbang halal atau nggak makanannya, akhirnya kita makan di KFC di Bukit Bintang.

Selesai makan kita naik monorel lagi ke KL sentral, ambil barang di loker dan langsung beli tiket LRT Kelana Jaya Line ke Masjid Jamek dan disambung LRT Sri Petaling Line atau Ampang Line ke Plaza Rakyat. Turun di stasiun LRT Plaza Rakyat kita tinggal jalan kaki kira-kira 50 meter menuju Terminal Bas Puduraya. Kita menggunakan bis untuk perjalanan dari Puduraya ke Hatyai, Thailand. Di dalam terminal banyak sekali PO yang melayani rute Puduraya-Hatyai *dan banyak sekali calo tiketnya*, kita yang sudah booking tiket dari Indonesia memilih menggunakan Alisan Golden Coach yang berangkat jam 23.59. Selain harganya lebih murah beberapa ringgit daripada PO lain, bis Alisan juga dilengkapi colokan listrik dan wifi, jadi selama perjalanan bisa ngecharge hp dan tetap keep in touch dengan keluarga di rumah. Senangnya.. 🙂

Sama seperti ketika melewati perbatasan Singapura – Malaysia, ketika melewati perbatasan Malaysia – Thailand pun kita harus menuju kantor imigrasi dulu untuk mendapatkan cap di paspor -‘cok paspo’ kalau kata bapak supir bis Alisan. Pengecekan di perbatasan Malaysia – Thailand cukup serem kalau saya bilang, karena selain ke kantor imigrasi buat ‘cok paspo’ bis kita juga diperiksa oleh tentara Malaysia yang –dengan sangat beruntungnya– curiga dengan kita bertiga. Berkali-kali kita ditanyai seputar kedatangan ke Malaysia, naik apa ke Malaysia, mana tiket pesawatnya, ngapain di Malaysia, apa pekerjaan kita. Mereka seperti nggak percaya kalau ada 3 orang mahasiswa cewek dengan tampang *mungkin* innocent dan *mungkin* masih terlihat kekanakan datang ke Malaysia tanpa pengawalan orang yang lebih tua, nggak ada cowok yang nemenin, dan sekarang di tengah malam yang gelap gulita, berani naik bis lintas negara dari Malaysia ke Thailand yang kabar-kabarnya lagi ada kerusuhan politik. Sungguh narasi yang sangat ekstrim sekali, tapi itu benar-benar terjadi. Dan akhirnya bapak-bapak tentara itu percaya pada kita bertiga setelah saya berhasil menunjukkan kartu mahasiswa saya. Billion thanks to UNS tercinta #kecupbasah.

Imigrasi Malaysia beres. Pengecekan oleh tentara Malaysia beres. Imigrasi Thailand beres. Thailand i’m coming…Oom Ken i’m coming…

to be continued…

Rinduku Padamu

ketika raga tak kuat lagi untuk bertahan

namun jiwa tak ingin berhenti berjalan

ketika nurani terhempas tak mampu mengalahkan nafsu

namun besar rindu tak mampu lagi tertampung dalam kalbu.

aku berada dalam ketidakberdayaan

 

aku berlari ke ujung pelangi, kau tak jua ku temui.

aku menangis dalam derasnya hujan, kau tak jua ku dapatkan.

aku tersesat dalam kenihilan,

kau tak jua ku temukan.

 

katakan,

arah mana yang harus ku tuju

untuk bisa menggapaimu

 

190114

Kabut

Kabut, kabut

lekat terikat bersama tetesan air hujan

sengaja memadat,

menyembunyikan barisan bukit bukit ilalang,

mengaburkan warna warni taman bunga di pinggir telaga.

Pekat, pekat, hingga tiada yang mampu ku lihat.

 

Kabut, kabut

lembut menyentuh ujung jemari yang beku

bergerak seiring irama langkah sang bayu

menyisakan rasa dingin yang tak pernah sama.

Kencang, kencang, hingga tak pernah mampu ku pegang.

 

Kabut, kabut

yang memudar terganti silau sinar mentari

pergilah bersama kawanan mega mega

dan bawa rasaku terbang melayang.

Tinggi, tinggi, hingga tak tampak lagi.

 

-KP, 2013-

Karam

Engkau yang berada di pulau di tengah danau

tak takutkah kau di sana?

Tak pernah melangkah dari tepi daratan,

terus menatap tegapmu dalam cerminan air tawar.

Aku menyapa, karena aku takut bayangmu telah berbeda.

 

Engkau yang berada di pulau di tengah danau

apa kabar kau disana?

Apakah indah senja yang kau lihat dari tebing barat?

Aku bertanya, karena senja kita tak pernah sama.

 

Engkau yang berada di pulau di tengah danau

tak inginkah kau kemari?

karena kini diriku tak kuasa menjangkaumu

dengan perahu merah yang telah karam setengah.

 

-SP, 2013-

warna

Ini kisah tentang pelukis kehidupan.

Semua cat warna terlihat bercampur di palet raksasa, menunggu untuk meninggalkan bekas dalam kanvas.

Merah bertemu biru, terlahirlah ungu. Kuning dan merah bersua, terciptalah jingga.

Merah, biru, ungu. Kuning, hijau, jingga. Ia suka semua warna.

Tapi tak pernah ia membasahi kuasnya dengan cat hitam. Ia suka semua warna.

Bukankah hitam juga sebuah warna?

 

Ia terus bertanya, kenapa harus ada hitam yang kelam bila ia suka memulas merah yang cerah?

Kenapa harus ada hitam yang legam jika ia suka melihat kuning yang bening?

Tapi, bukankah hitam juga sebuah warna?

Bukankah jika hitam tak tercipta maka putih pun tak ada?

Bukankah jika gelap tak berdiri maka terang tak lagi berarti?

 

Berulang kali ia goreskan hitam putih hingga jadi abu-abu.

Kemudian diusapkan hitam di tumpukan merah dan biru.

Kini ia memandang lembayung tertutup mendung.

Melamunable

Saya ingin menulis tentang perubahan. Bukan, saya tegaskan sekali lagi kalau saya sampai saat ini belum direkrut jadi anggota power rangers. Balik lagi ke topik, mungkin ini tulisannya agak berat dikit *lagi galau soalnya* jadi mohon dimaklumi kalau banyak kata-kata aneh yang berterbangan.

 

Sekarang saya merasa sedikit berubah. Dahulu kala *berasa saya hidup sejak jaman baheula* saya mudah sekali menyalurkan hobi saya yang paling penting se jagad raya, melamun. Kalau kata Descartes ‘cogito ergo sum – aku berpikir maka aku ada’, mungkin kalau dalam kehidupan saya berubah menjadi ‘daydream ergo sum – aku melamun maka aku ada’. Mau di dalam ruang, mau di luar ruang, mau di kendaraan umum, mau di manapun, kalau saya ingin melamun ya langsung bisa melamun.

Melamun yang saya maksud adalah saya diam, nggak melakukan apa-apa, nggak memikirkan apa-apa. Mungkin secara gampangnya melamun a la saya ini semacam meditasi tapi nggak pakai satu posisi khusus dan nggak pakai tutup mata. Saya bisa melamun sambil tetap berjalan, saya masih bisa melihat, mendengar dan merasakan lingkungan di sekitar saya. Dan memang cuma itu yang saya lakukan: melihat, mendengar, merasa.

DSC_0242

Melamun. Kenapa saya suka melamun?

Alasan utamanya karena dulu saya nggak punya kerjaan *emang sekarang punya?*. Alasan tambahannya, karena dengan melamun saya merasa dekat dengan alam sekitar saya. Bahkan saat melamun di dalam kamar saya bisa tiba-tiba merasa dekat dengan jam dinding, dekat dengan air keran kamar mandi yang mengalir, dekat dengan udara yang digerakkan oleh baling-baling kipas angin, dekat dengan pakaian-pakaian yang menggantung di kapstok. Pokoknya jadi dekat dengan apa saja yang selalu ada di sekitar saya namun tidak pernah sempat saya perhatikan ketika saya sedang nggak melamun. Kemudian pada akhirnya saya merasa dekat dengan Dia. Kalau suasana ini mau digambarin secara puitis tuh semacam: ‘bukan sesuatu yang semestinya bisa digambarkan dengan kata-kata’. Apa mungkin ini yang didefinisikan jadi ‘inner peace’ di film Kungfu Panda? Bisa iya, bisa tidak. Bisa jadi, bisa nggak jadi.

Masalahnya, sekarang saya merasa sedikit berubah. Saya menjadi susah melamun. Buat melamun aja saya harus ke tempat-tempat yang saya rasa melamunable, yaitu tempat-tempat yang sepi, tempat yang nggak ada yang peduli sama apa yang saya lakukan. Pantai, gunung, air terjun, perpustakaan, masjid, sekarang hampir semua tempat menjadi unmelamunable bagi saya. Susah sekali mencari tempat yang tepat seperti yang saya inginkan, dan ketika saya sudah menemukan tempat itu saya belum tentu bisa melamun juga. Saya merasa rugi dua kali.

Kenapa ya saya jadi susah melamun? Apa saya yang terlalu sibuk dengan segala tetek bengek hidup saya yang banyak nggak pentingnya? Kayaknya enggak juga. Apakah saya sekarang menjadi terlalu serius? Enggak juga. Apa saya sudah lupa cara melamun? Atau saya lupa cara berkomunikasi dengan alam? Semoga juga enggak.

Lha, terus saya harus bagaimana?

*tulisan ini sengaja nggak ada simpulannya*

 

221113

Yang berharap kembali menjadi manusia melamunable.